Dosen langsung tau lo nggak paham.
Dosen langsung nanya: "Kenapa lo pakai kuesioner kalau yang diuji treatment effect?" Lo jawab apa?
Itu template yang harus lo adjust ke: objek penelitian lo, waktu lo, resources lo, dan research question lo.
Konteks beda = metodologi harus beda.
Jurnal pakai 500 orang karena ada funding. Lo? Budget pas-pasan. Turunin jadi 100–150 dengan justifikasi rumus Slovin.
Jurnal pakai wawancara terstruktur (butuh waktu lama). Lo pakai kuesioner online (lebih feasible untuk waktu 3 bulan).
Kalau lo cuma mau tau hubungan (bukan sebab-akibat), jangan pakai regresi. Korelasi cukup.
Lo: mahasiswa S1, akses terbatas, waktu 2 bulan. Jangan paksain 500. Pakai rumus Slovin, turunin jadi 150. Jelaskan di BAB 3 kenapa lo adjust.
Lo: nggak ada waktu interview 100 orang. Switch ke kuesioner online pakai Google Forms. Tetap valid, lebih feasible.
Yang penting: jelaskan di metodologi kenapa lo pilih instrumen itu.
Metodologi yang cocok adalah yang feasible untuk kondisi lo.
Bukan yang paling keren di jurnal.
"Karena jurnal referensi pakai" = jawaban terburuk. Dosen mau denger: "Karena research question gue butuh X, resources gue Y, jadi metode Z paling sesuai."
Yang penting: lo punya justifikasi kenapa adjust. Bukan asal ngopy terus kaget pas bimbingan dosen bilang "ini nggak cocok sama research question lo."
3 adjust di atas cukup buat bikin metodologi lo solid.
Atau share ke temen yang stuck di metodologi. 3 poin ini bisa unblock mereka sekarang juga.