Dosen langsung tau lo asal tebak.
Dosen langsung nanya: "Mana hubungan antara teori yang lo pakai di BAB 2 sama hipotesis ini?" Lo jawab apa?
Bukan tebak-tebakan. Bukan "menurut gue harusnya X mempengaruhi Y". Harus ada benang merah dari teori → variabel → hipotesis.
Hipotesis lo: "Brand image mempengaruhi purchase intention" (ini derived dari teori brand equity, bukan TPB).
Dosen langsung reject. Inconsistency fatal.
Teori mana yang paling relevan sama research question lo? Itu yang jadi basis hipotesis.
Misal TPB: attitude, subjective norms, perceived control. Itu jadi variabel lo.
"Attitude mempengaruhi intention" = derived langsung dari TPB. Clear logic.
Hipotesis lo: "Perceived usefulness mempengaruhi behavioral intention to use" — extracted langsung dari konstruk TAM.
Clear linkage. Dosen approve.
Hipotesis yang nggak grounded di teori = spekulasi.
Skripsi bukan tempat spekulasi.
Common sense bukan argumen akademik. Dosen mau denger: "Based on teori X, konstruk Y diprediksi mempengaruhi Z."
Buka BAB 2 lo. Highlight teori utama. Buka hipotesis lo. Apakah variabel di hipotesis lo extracted dari teori itu?
Kalau nggak, fix sekarang. Jangan tunggu sidang dosen nanya ini.
Atau share ke temen yang masih bingung bikin hipotesis. 3 langkah ini bisa save mereka dari reject.