Data lo bilang A, kesimpulan lo claim B.
Kesimpulan lo: "X sangat berpengaruh signifikan terhadap Y." Dosen langsung nanya: "mana data yang support 'sangat'?"
Bukan harapan lo. Bukan asumsi lo. Bukan "harusnya begini". Kalau data lo bilang "pengaruh sedang", kesimpulan lo tulis "pengaruh sedang". Period.
Dosen nggak baca harapan. Dosen baca: apakah kesimpulan lo logically derived dari data BAB 4?
Data lo dari 100 mahasiswa S1. Kesimpulan lo: "Semua generasi muda di Indonesia..." ❌ Scope melebar.
Hasil lo "pengaruh sedang". Kesimpulan lo "sangat kuat". Kata "sangat" harus ada threshold data yang support.
Lo pakai korelasi. Kesimpulan lo "X menyebabkan Y". Korelasi ≠ kausalitas. Ini logic 101.
Kesimpulan lo: "Work-life balance mempengaruhi produktivitas karyawan di seluruh Indonesia."
Overgeneralisasi. Dosen reject.
Hasil lo: "korelasi sedang (r=0.48)". Kesimpulan lo: "terdapat hubungan sedang antara X dan Y."
No upgrade. No downplay. Exact match.
Kesimpulan yang nggak match hasil data = wishful thinking.
Bukan penelitian.
Apa definisi "sangat kuat"? r > 0.7? Beta > 0.6? Kalau data lo nggak nyampe itu, jangan pakai kata itu.
Buka BAB 5. Highlight tiap kalimat kesimpulan. Cross-check sama tabel hasil di BAB 4. Apakah magnitude-nya exact match?
Kalau lo bilang "sangat" tapi data bilang "sedang" — ubah sekarang.
Atau share ke temen yang udah nulis kesimpulan tapi belum cross-check sama data. 3 kesalahan ini bisa langsung diketemuin.