Ini bukan karena dosen lo males.
Lu udah siap-siap mau follow-up tapi takut dianggep annoying. Sound familiar?
Mereka ngajar 3-4 mata kuliah. Bimbingan 10-15 mahasiswa. Riset pribadi. Administrasi kampus. Skripsi lu = 1 dari 20 to-do item mereka hari itu.
Ini bukan excuse — ini konteks yang perlu lu paham:
Dosen nggak bisa bales "OK" tanpa baca. Baca 10 halaman BAB 3 + kasih feedback substansial? Butuh 30-60 menit fokus penuh.
Mereka lagi nyari slot waktu itu di antara meetings & deadlines lain.
Senin pagi = peak email/meeting time. Jumat sore = weekend mode. Mid-semester = exam grading hell. Timing matters.
Hack: Kirim Selasa/Rabu siang (13:00-15:00). Itu slot paling sepi untuk dosen review draft. Avoid Senin pagi & Jumat afternoon.
"Pak, draft BAB 3 sudah saya revisi. Mohon dicek." ← Ini bikin dosen bingung harus respond apa. Revisi yang mana? Perlu feedback spesifik apa?
Better: "Pak, draft BAB 3 (fokus revisi metode sampling sesuai saran terakhir). Mohon feedback apakah sudah align dengan expectation Bapak."
Template: "Pak, draft ini untuk persiapan sidang tanggal [X]. Mohon feedback sebelum [date spesifik] agar saya bisa revisi sesuai waktu."
Dosen lebih prioritize request dengan deadline jelas daripada "mohon dicek kapan sempat" yang open-ended.
Dosen lu pengen bantu — tapi mereka juga manusia dengan 50 email unread. Strategi komunikasi lu yang nentuin seberapa cepat lo dapat atensi.
Atau share ke temen yang lagi galau nunggu balesan pembimbing. Kadang cuma butuh konteks + strategi yang lebih baik.